Rabu, 15 Januari 2014

Tetaplah Menjadi BINTANG!



Tetaplah menjadi Bintang walau kau tlah disana.

                AKU dan Bintang besar bersama-sama. Kami bertetangga sejak kecil. Kami berdua sudah seperti anak kembar. Hari-hari selalu aku lewati bersama Bintang. Bila kujauh dari Bintang rasanya seperti ada yang hilang.Pernah suatu ketika, aku tidak mau ikut tamasya karena aku berlibur tanpa Bintang. Kebetulan aku dan Bintang 1 sekolah dan 1 kelas. Bintang anak yang pintar, di kelas dia selalu mendapat ranking 1. Aku duduk sebangku bersama Bintang. Prestasiku ya tidak lumayan jauh dengan Bintang, aku selalu menduduki posisis 5 besar tapi sayangnya aku tidak pernah bisa menggantikan posisi Bintang di kelas. Tapi, Bintang orangnya baik hati dan sangat sederhana. Dia tidak ingin dianggap pintar oleh teman-teman sekelasnya, dia menganggap bahwa semua orang itu pintar dan tidak ada yang bodoh kecuali orang malas. Sudah pintar, baik, tidak sombong lagi. Itulah mengapa aku selalu ingin bersama Bintang.

Senin. Entah mengapa, aku mempunyai perasaan yang tidak enak hari ini. Ditambah lagi awan yang agak sedikit mendung membuat perasaanku makin kacau. Seperti biasa rutinitas ku tiap pagi, berangkat bersama Bintang. Aku sudah janjian bersama Bintang di tempat biasa kita bertemu. Tak lama kemudian, Bintang datang dengan muka agak berbeda. Mukanya sangat cerah sekali.
“Hoi, Ton. Udah lama nungguya?”
“Nggak kok, biasa aja.Tang, muka lo kenapa? Kayanya lagi cerah banget. Jatuh cinta yaa?”
“Ah masa sih, Ton? Mana jatuh cinta sih? Jatuh dari tangga aja sakit. Apalagi jatuh cinta. Haha.”
“Gue serius nih, Tang. Muka lo lagi beda banget hari ini.”
“Alhamdulillah, berarti gue gantengan dong? Hehe.”
“Haduh, terserah lo deh, Bro.”
Tak lama, angkutan yang kami tunggu datang menghampiri.
30 menit kemudian, tiba di sekolah dan langsung belajar serta mengerjakan tugas bersama Bintang.
“KKKKKRRRRIIIIIINNNNNGGGGGG!!!”bel pertanda bahwa pelajaran telah selesai berbunyi. Jam 3 sore, semua murid keluar kelas dan pulang kerumah masing-masing. Tapi tidak dengan aku dan Bintang. Aku dan Bintang masih disekolah untuk mengikuti ekskul bola.Aku dan Bintang memang hobby bermain bola. Bintang memang “bintang” di kelas, tapi kalau di lapangan hijau, aku yang menjadi “bintang”nya. Ya, Bintang memang agak kurang jika bermain bola, tapi dia tetap berusaha untuk bermain yang ‘apik’ dilapangan hijau.
Perlahan tapi pasti, rasa cemasku bertambah sehingga membuat konsentrasi ku buyar saat bermain.
“Toni, kamu kenapa? Main tidak seperti biasanya!! Ayo semangat!! Konsentrasri !!!” bentak pelatihku.
“Ton, lo kenapa? Kalo lo sakit gausah main bola aja. Istirahat dulu di bangku.” Tegur Bintang.
“Nggak apa-apa, Tang. Perasaan gue lagi nggak enak daritadi. Yaudah deh, gue istirahat dulu sebentar. Bilang sama pelatihya, Tang.”
“Perasaan gue kenapa jadi gaenak gini ya? Aduh ya Allah.” Gumamku.
Jam 6 sore. Tandanya ekskul futsal selesai dan saatnya solat maghrib. Aku berdoa kepada Allah smoga tidak ada apa-apa dengan perasaanku. Setelah selesai solat, aku dan Bintang pulang kerumah.
Diperjalanan menuju rumah, kami jalan santai. Kebetulan di seberang jalan ada penjual es kelapa. Bintang mengajakku untuk minum es kelapa. Entah mengapa, aku menolaknya. Padahal aku haus sekali saat itu.
“Tang, gausahlah. Kita pulang aja kerumah. Udah malem lagian, karena ada tugas, Tang.”
“Ini kan juga udah mau pulang, Ton.”
“Gausah deh, Tang..”
“Gue bayarin, Ton. Tenang aja.”
“Gausah, Tang. Perasaan gue lagi gaenak, Tang. Udah yuk balik aja.”
“Perasaan lo doang kok. Yaudah gue beliin yaa… ” Bintang tetap kekeuh dengan pendiriannya. Bintang akhirnya jalan menyebrang.
Tiba-tiba…
“BBBBIIIIIIIIINNNNNNNTTTTTTTTTAAAAAAAAAAAANNNNNNGGGGGGG!!!!!!!AWAAAAASSSSSSSSSSSSSSS !!!!!”teriak kusambil mencoba berlari.
“AAAHHHHHHHHHHHH” Tabrakan pun tak terhindarkan. Aku langsung lari melihat Bintang. Melihat muka Bintang yang penuh dengan darah. Aku panik disaat itu. Aku langsung teriak meminta tolong. Pengemudi yang menabrak Bintang langsung kabur entah kemana. Warga sekitar mencari kendaraan untuk membawa Bintang kerumah sakit terdekat. Aku langsung menelfon orangtua Bintang.
Saat di mobil, Bintang mencoba untuk berbicara kepadaku.
“Toon, maa..maa….a..fff…ffiiinn…. ggg…uuu….eeeyaa..aaa” Bintang melirih.
“Tang, lo gapapa!! Lo pasti kuat!! Sabar Tang, sebentar lagi kita dirumah sakit.”
Ya Allah, apa ini pertanda? Ya Allah jangan ya Allah.
Setibanya dirumah sakit, Bintang dibawa ke UGD. Aku tidak diperbolehkan untuk masuk.Tak berapa lama, keluarga Bintang datang.
“Ton, kenapa dengan Bintang, Ton?” tangisan Ibu Bintang meledak.
Lalu, aku menceritakan semuanya. Ibu Bintang makin tak kuasa menahan air matanya. Setelah itu, dokter keluar dari ruang UGD dengan muka yang amat sedih. Perasaanku sangat kacau.
“Dokter, gimana anak saya, Dok? Gimanaaaaaa???”
“Ibu tenang dulu,  Bu.  Maaf, Bu.  Kami sudah berusaha sekuat mungkin.  Anak Ibu sangat kehilangan banyak darah. Dan sangat amat disayangkan,  pada saat dirumah sakit anak Ibu sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Maafkan  kami, Bu.  Kami  hanya menjalankan tugas kami. Ibu yang sabar ya...”
“BINTANGGGGGGG!!!! MAAFIN GUEEEE!!!!” tangisku pun langsung meledak saat itu juga. Menyesal atas yang terjadi semuanya. Jenazah Bintang akan segera dibawa pulang untuk dimakamkan.  Aku seperti masih bermimipi atas apa yang telah terjadi kepada  Bintang sahabatku.  Kini, Bintang hidup diatas sana untuk menyinari kegelapan kita semua.
Selamat jalan Bintang. Tetaplah menjadi Bintang diatas sana.



"Sejujurnya, tulisan ini udah gue buat sejak tahun 2012. Dulu pas nulis ini gue ada niatan untuk nulis. Tapi ga pernah gue seriusin niat gue di saat itu. Mungkin ceritanya biasa aja sih, tapi gue bangga kok."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar